Perjalanan Santiago dalam The Old Man and The Sea Karya Ernest Hemingway
Saya menemukan buku The Old Man and The Sea berkat rekomendasi salah satu marketplace ketika sedang scroll buku bacaan. Dari review yang berseliweran, katanya buku ini recomended dibaca. Terlebih hasil karyanya yang fenomenal ini berhasil mengantarkan Ernest Hemingway meraih Pulitzer Prize tahun 1952 dan Nobel Prize dalam bidang sastra tahun 1954. Jadilah rasa penasaran saya semakin memuncak. Saya iseng memasukkan ke keranjang. Memang dasar gampang oleng kena pengaruh para BookToker, saya memutuskan untuk membeli buku ini untuk melengkapi koleksi TBR di bulan Desember.
Ernest Hemingway adalah seorang penulis dan jurnalis asal Amerika Serikat. Ia telah menghasilkan banyak karya berupa novel/novella, cerpen, maupun karya nonfiksi. Di antara semua karyanya, The Old Man and The Sea menjadi karya paling fenomenal yang ditulisnya pada tahun 1951.
Karena kesibukan yang tidak berkesudahan, saya baru mulai membaca buku The Old Man and The Sea di minggu kedua Bulan Februari, setelah menyelesaikan buku lainnya. Saya membaca novella ini dari Penerbit Narasi. Tebalnya sekitar 160-an halaman. Relatif tipis dan bisa dibaca sekali duduk. Namun karena ini karya terjemahan bahasanya agak terkesan aneh, sehingga ada beberapa bagian yang harus dibaca berulang untuk menangkap konteks tulisan. Selain itu, ceritanya ditulis dalam satu bagian, tidak dibagi menjadi beberapa sub bab.
Ulasan Isi Buku
Buku ini berkisah tentang Santiago, si nelayan tua yang sudah delapan puluh empat hari pergi melaut tanpa hasil sama sekali. Orang-orang sekitar kemudian menyebutnya salao, yakni bentuk terburuk dari ketidakberuntungan itu sendiri. Sebelumnya Santiago berlayar bersama Manolin, bocah lelaki yang setia membantunya sejak kecil. Namun karena ketidakberuntungan yang melekat padanya, orang tua Manolin melarangnya berlayar bersama Santiago.
Bagi seorang nelayan yang sudah berpengalaman seperti Santiago, tidak mendapatkan ikan sama sekali dalam jangka waktu yang lama dapat meruntuhkan harga dirinya sebagai nelayan. Namun ia pantang menyerah. Semangatnya berlayar mencari ikan tidak pernah padam. Di hari ke-85 ia berlayar seorang diri lebih jauh dari rute biasanya menuju Gulf Stream yang terletak di Samudera Atlantik.
Santiago memasang beberapa umpan. Salah satu umpannya disambar ikan marlin berukuran sangat besar. Ia tidak dapat langsung menarik ikan itu ke permukaan, justru perahunya yang ditarik oleh ikan marlin raksasa itu. Selama berhari-hari ia terombang-ambing di tengah lautan dalam keadaan lelah dan lapar. Bisa saja ia memutuskan tali kailnya agar ia bisa terbebas dari ikan itu. Namun Santiago tetap bertahan dengan kondisi terluka menahan tarikan dari ikan marlin.
Ia sudah membayangkan berapa banyak uang yang akan diperoleh jika ia berhasil menangkap ikan marlin raksasa itu. Terlebih harga dirinya sebagai nelayan yang mendapat stigma sebagai salao sedang dipertaruhkan. Maka dari itu, ia tetap bersikeras dengan keputusannya berusaha menangkap ikan itu. Santiago bertahan dengan bekal minum seadanya dan memakan ikan atau udang mentah yang berhasil ia pancing.
Usahanya hingga babak belur membuahkan hasil. Dalam pertarungan yang cukup sengit, Santiago berhasil membunuh ikan marlin itu dengan harpunnya. Ia berhasil menangkap ikan marlin itu. Masalah baru muncul. Ikan marlin itu berukuran sangat besar, lebih besar dari perahunya. Tidak mungkin ia membawanya di atas perahu. Santiago mengikatkan ikan marlin itu di samping perahu. Ia pun berlayar pulang ke arah barat daya.
Ikan marlin yang bersimbah darah itu meninggalkan jejak bau anyir darah yang mengundang kawanan hiu mendekati perahunya. Santiago harus bertarung melawan hiu yang mencoba merebut ikan marlinnya. Dengan persenjataan dan sisa tenaga yang masih ada, Santiago berhasil membunuh kawanan hiu yang mendekat satu persatu. Namun, ikan marlin yang menjadi daya tarik para hiu itu telah habis dimakan, dan hanya menyisakan kerangkanya saja.
Nasib nahas menimpanya. Ikan marlin yang susah payah didapatkannya harus berakhir di perut kawanan hiu yang kelaparan. Tapi setidaknya perjuangannya selama berhari-hari terombang ambing di lautan lepas jauh dari daratan bisa membuktikan bahwa ia bukan salao. Terlebih lagi ia mampu bertahan dari serangan kawanan hiu dan berhasil pulang dengan selamat ke tempat tinggalnya.
Pelajaran Kehidupan dari Kisah Santiago
Banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah perjalanan Santiago mengarungi Samudera Atlantik. Semangat pantang menyerahnya yang tidak pernah padam telah mengantarkannya pada keberhasilan menangkap ikan marlin raksasa. Meskipun mendapat stigma dari masyarakat sebagai seorang salao, Santiago berhasil membuktikan bahwa nasib buruk dapat diubah dengan kemauan yang kuat dan usaha yang disiplin.
Dari Santiago kita belajar untuk terus berusaha meraih apa yang kita cita-citakan. Tidak peduli omongan orang lain yang mencemooh dan meremehkan atau bahkan memberi label negatif, kitalah nakhoda yang menentukan arah ke mana kapal kita akan melaju. Teruslah berusaha dengan apa yang kita yakini. Sekecil apapun usaha yang kita lakukan, suatu saat akan mendapatkan hasilnya.
Namun demikian, kita tetap menyediakan ruang ikhlas atas takdir yang tidak bisa dihindarkan. Agar kita tidak lupa, bahwa ada banyak hal di luar kendali kita yang harus dihadapi. Sama seperti Santiago yang harus mengaku kalah dari kawanan hiu yang menyerangnya dan memakan ikan marlin hasil buruannya. Kehadiran hiu itu merupakan hal di luar kendali Santiago. Tapi setidaknya ia sudah berusaha mempertahankan apa yang didapatkannya.

Komentar
Posting Komentar