Menumbuhkan Kesadaran Merawat Bumi dari Buku Kitalah Yang Ada Di Sini Sekarang karya Jostein Gaarder
Kitalah Yang Ada di Sini Sekarang adalah sebuah surat terbuka yang ditulis Jostein Gaarder untuk cucu-cucunya, generasi yang lahir di abad ke-21. Ia melemparkan sebuah pertanyaan sederhana yang jawabannya tidak dapat diketahui saat itu juga.
Bagaimana wajah dunia ini menjelang akhir abad ke-21?
Melalui pertanyaan sederhana itu, Jostein Gaarder mengajak cucu-cucunya dan para pembaca surat terbuka ini untuk bersama-sama larut dalam rangkaian pemikirannya. Jostein Gaarder membuka kembali memori kaleidoskop dari banyak peristiwa terpisah yang menjadi pondasi kesadaran akan eksistensi diri di alam semesta ini, hingga perenungan akan masa depan bumi yang berkaitan dengan perilaku manusia di dalamnya.
Di suatu momen ketika masih tinggal di Tonsenhagen, sebuah daerah di pinggiran Kota Oslo, Jostein Gaarder menyadari sebuah keajaiban dalam dunia ini. Ia merasa seperti melihat dunia untuk pertama kalinya. Sebuah kesadaran akan eksistensi diri di sebuah planet di Tata Surya bernama Bumi. Di saat itulah ia juga menyadari sebuah konsekuensi keberadaannya yang suatu saat akan direnggut oleh kematian.
Semakin dewasa orang-orang menganggap dunia ini biasa saja. Semua yang terjadi termasuk hidup dan mati merupakan hal alamiah yang sudah normal terjadi. Padahal sewaktu kecil rasa ingin tahu kita akan dunia sangatlah besar. Entah bagaimana rasa penasaran itu menghilang seiring berjalannya waktu menuju tangga kedewasaan. Namun penulis berjanji akan selalu merasa bahwa dunia ini tidak biasa saja. Kemudian muncul kesadaran-kesadaran lain yang dialami penulis. Kesadaran bahwa dirinya adalah seorang alien yang tinggal di bumi. Kesadaran bahwa dirinya adalah bagian dari alam itu sendiri.
Semasa kecil, penulis tertarik dengan paraspikologi seperti kemampuan telepati atau transfer pikiran, serta hal-hal supranatural seperti kepercayaan akan sesuatu yang sifatnya ghaib. Jostein bahkan menuangkan imajinasinya tentang fenomena supranatural dalam beberapa bukunya, seperti The Castle in Pyreness dan Dunia Cecilia.
Ia menyadari bahwa kehidupan kita sebagai manusia tidak terlepas dari gagasan akan hal-hal supranatural. Pengalamannya memasuki dunia ajaib itu kemudian beralih pada suatu kesadaran bahwa keberadaan dunia ini merupakan suatu keajaiban. Di mana penulis mulai mengalihkan perhatian pada alam, semesta, dan bumi tempat tinggal kita.
Kaleidoskop dari berbagai peristiwa yang terkesan acak yang dialami penulis, kemudian dimaknai secara mendalam hingga memunculkan pertanyaan-pertanyaan filsafat.
Penulis merenungkan betapa kemajuan peradaban yang dibangun manusia selama ribuan tahun telah berkembang dengan sangat pesat. Berbagai disiplin ilmu pengetahuan semakin berkembang dari waktu ke waktu, termasuk dalam bidang astronomi.
Pada tahun 1968, ekspedisi Apollo 8 berhasil meluncurkan pesawat ruang angkasa dengan awak untuk mengorbit bulan. Untuk pertama kalinya, manusia bisa melihat bentuk bumi dari sebuah potret Earthrise yang diabadikan oleh tiga orang astronaut.
Kemudian pada September 1977, Wahana antariksa Voyager 1 diluncurkan dalam misi melintasi Bimasakti. Pada 14 Februari 1990 menjadi hari peringatan baru bagi kemanusiaan, di mana Voyager 1 berhasil mengabadikan potret Tata Surya dengan sederet planet di dalamnya. Dalam potret itu kita dapat melihat bahwa bumi hanyalah sebuah titik biru pucat atau Pale Blue Dot di alam semesta yang membentang luas. Kemajuan teknologi astronomi membawa kita melihat alam semesta hingga akhirnya kita mampu membalikkan arah untuk melihat diri sendiri. Bak sebuah bola di tempat acak di alam semesta, tempat tinggal kita.
Penjelajahan alam semesta berkaitan erat dengan ruang dan waktu. Memandang jauh ke ruang angkasa sama artinya dengan memandang ke masa lalu. Berdasarkan teori relativitas Einstein, tidak ada waktu "sekarang" yang berlaku sama di seluruh bagian alam semesta. Hal ini berkaitan dengan jarak cahaya serta alam semesta yang terus mengembang dengan kecepatan sangat tinggi menyulitkan pemetaan alam semesta secara keseluruhan dan tepat.
Keseimbangan Karbon
Bumi merupakan satu-satunya planet di Tata Surya yang memiliki kehidupan. Dalam beberapa dekade terakhir, para astronom telah menemukan beberapa ribu planet yang tersebar di luar angkasa. Namun tidak ada satupun yang menunjukkan adanya tanda-tanda kehidupan selain di bumi.
Kondisi bumi sangat ideal untuk sebuah kehidupan, terutama dilihat dari jarak bumi ke matahari, serta adanya elemen-elemen yang memenuhi syarat-syarat kehidupan, seperti molekul oksigen, air, dan karbon dioksida. Molekul-molekul tersebut terbentuk dari penyatuan elemen-elemen hasil ledakan-ledakan besar pernah yang terjadi di alam semesta di masa yang sangat lampau.
Kehidupan di bumi telah menciptakan sebuah atmosfer yang menghalangi semua radiasi panas dari matahari terpantul kembali ke luar angkasa. Inilah yang disebut efek rumah kaca yang membuat suhu bumi menjadi lebih hangat dan dapat ditempati manusia. Seandainya tidak ada efek rumah kaca, bumi akan membeku seperti bola salju raksasa tanpa kehidupan sama sekali.
Alam semesta memiliki proses alamiah berupa siklus atau keseimbangan karbon. Tumbuhan menghisap karbon dioksida dari udara dan mengubahnya menjadi bahan makanan bagi hewan, serta oksigen yang dihirup oleh makhluk hidup untuk bernapas. Karbon dioksida juga dilepaskan ke angkasa dari pernapasan makhluk hidup, maupun penguraian bahan organik. Sementara itu, keseimbangan karbon juga terdapat dalam proses geologis alam. Erupsi vulkanis melepaskan karbon dioksida ke atmosfer yang kemudian terdorong kembali ke kerak bumi.
Akan tetapi, aktivitas manusia sekitar 200 tahun belakangan telah mengganggu keseimbangan karbon alamiah ini. Manusia tergoda untuk membongkar dan membakar cadangan karbon berupa minyak bumi, batu bara, dan gas alam yang telah tersimpan di kerak bumi selama berjuta-juta tahun. Akibatnya terjadi pelepasan gas-gas rumah kaca di atmosfer sehingga menyebabkan pemanasan global atau perubahan iklim.
Hingga saat ini belum ada tanda-tanda peradaban lain di alam semesta selain peradaban di bumi. Tidak ditemukan sinyal dari luar angkasa yang mengindikasikan adanya makhluk lain yang memiliki kesadaran selain manusia yang tinggal di alam semesta ini. Jika memang ada kehidupan lain di alam semesta, dibutuhkan waktu ribuan tahun untuk dapat berkomunikasi dengan mereka yang jaraknya ribuan tahun cahaya. Lalu pertanyaannya, apakah peradaban kita masih bertahan untuk bisa menangkap sinyal-sinyal dari peradaban lain di luar angkasa?
Jostein mengajukan sebuah pertanyaan filsafat terpenting di masa kini: Bagaimana kita bisa menjaga peradaban manusia dan dasar-dasar kehidupan di planet kita ini?
Keserakahan yang Merenggut Banyak Kehidupan
Peradaban manusia dibangun dalam jangka waktu yang sangat panjang selama ribuan tahun. Seiring waktu muncul keserakahan manusia untuk menguasai sumber daya karbon yang selama ini tersimpan di perut bumi. Peradaban manusia modern sangat bergantung pada sumber daya tersebut. Revolusi Industri mendorong penambangan dan pembakaran karbon secara besar-besaran. Namun seperti yang telah disebutkan sebelumnya, aktivitas ini telah melepaskan sejumlah besar karbon ke atmosfer yang menyebabkan pemanasan global.
Sebelum adanya Revolusi Industri kadar karbon dioksida di atmosfer sekitar 280 ppm. Level yang terus stabil selama ratusan ribu tahun. Namun angka tersebut melonjak lebih dari 50 persen menjadi 415 ppm. Penggunaan sumber daya fosil yang sangat masif dan merupakan level tertinggi karbon dioksida di atmosfer dalam beberapa juta tahun terakhir.
Berdasarkan laporan majelis lingkungan PBB tahun 2019, kondisi Bumi sangat memprihatinkan. Kondisi ekosistem planet memburuk dengan kecepatan tinggi, dan jutaan spesies flora dan fauna terancam punah. Spesies-spesies dalam daftar merah ini ditampilkan dalam berbagai publikasi berupa gambar berwarna. Mereka dikategorikan dalam daftar spesies yang kritis terancam, sangat terancam, dan rentan.
Sangat ironis apabila beberapa tahun kemudian spesies-spesies dalam daftar merah tersebut sudah benar-benar punah, generasi penerus kita hanya bisa melihat potretnya dalam sebuah buku gambar berwarna tanpa pernah melihat wujud aslinya. Pada suatu hari kekayaan hayati kita berakhir menjadi sebuah dongeng belaka.
Upaya Mengatasi Pemanasan Global
Bumi menjadi satu-satunya planet yang memiliki kehidupan, di mana manusia yang punya kesadaran tinggal di dalamnya. Kita mungkin sibuk mencari jawaban atas pertanyaan: Adakah planet lain di alam semesta ini yang dapat ditinggali manusia ketika bumi tidak lagi layak untuk ditempati?. Pertanyaan ini menunjukkan rasa keputusasaan atas segala kerusakan yang terjadi di Bumi yang tidak mungkin dapat diperbaiki lagi. Sehingga kita memilih jalan pintas untuk bermigrasi ke planet lain.
Lalu mengapa kita tidak pernah bertanya, Apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki kondisi Bumi agar dapat dihuni oleh generasi-generasi sesudah kita?.
Adalah menjadi sangat penting untuk segera menghentikan pelepasan gas-gas rumah kaca akibat pembakaran sumber daya fosil yang selama ini menopang peradaban manusia. Diperlukan komitmen yang besar dan keterlibatan banyak pihak untuk menangani permasalahan pemanasan global. Melalui Perjanjian Paris 2015, isu pemanasan global bukan lagi sekadar masalah lingkungan unilateral, melainkan transformasi kolektif sistem ekonomi, sosial, dan industri dunia menuju pembangunan yang rendah emisi dan berkelanjutan. Seluruh negara memiliki tanggung jawab untuk mengurangi laju pemanasan global, termasuk dengan cara menahan kenaikan suhu rata-rata global tidak lebih dari 2 derajat.
Penutup
Jostein Gaarder mengajak para pembaca surat terbuka ini untuk merenungkan kembali peran manusia di alam semesta. Manusia memiliki kesadaran dan akal budi untuk berpikir dan menyadari keberadaanya di alam semesta ini. Manusia memiliki tanggung jawab menjaga bumi sebagai satu-satunya planet yang memiliki kehidupan. Apabila Bumi hancur, maka hancur juga manusianya. Peradaban yang dibangun manusia selama ribuan tahun pun akan musnah. Oleh karena itu melalui serangkaian perenungannya, Jostein berusaha menumbuhkan rasa tanggung jawab warga Bumi untuk bekerja sama merawat Bumi. Manusia di Bumi tidak hidup bersamaan. Sudah ada manusia yng hidup sebelum kita, dan ada manusia yang lahir kemudian. Generasi mendatang yang lahir setelah kita berhak menikmati kehidupan yang layak di Bumi ini.
Selamat membaca!

Komentar
Posting Komentar