Hiduplah Sekali Lagi dengan Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Karya Brian Khrisna

Saya agak mengernyitkan dahi ketika membaca judul novel ini, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Dalam bayangan saya, ada seseorang yang memakan seporsi mie ayam sebelum ia memutuskan untuk mati atau mengakhiri hidupnya. Judul yang menggelitik dan menggugah rasa ingin tahu mengenai kisah karakter utama dalam novel tersebut.

Saya menemukan novel ini dari postingan status teman yang telah selesai membaca buku ini dan mengulasnya secara singkat. Kemudian saat berselancar di marketplace saya menemukan novel ini dan tergerak memasukkannya ke dalam keranjang. Dalam hati saya berkata, "Siapa tahu besok-besok tertarik".

Singkat cerita saat sedang berselancar di TikTok, saya terdampar di live streaming akun Gramedia. Mata saya membulat tatkala melihat potongan harga yang menggoyahkan niat saya untuk sekadar melihat-lihat saja. Tembok pertahanan saya pun gugur dengan masuknya buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati dalam daftar panjang riwayat pesanan saya.

Terkadang hidup ini unik. Ketika saya merasa kehilangan semangat menjalani rutinitas yang gitu-gitu aja, saya teringat sudah membeli buku ini. Konon dari rangkuman tutur kata para BookTok, buku ini mengangkat isu mental health dari tokoh utama yang hidupnya kacau tidak bermakna dan banyak bertemu orang-orang yang perlahan mengubah hidupnya. Buku ini juga menyajikan cerita yang dapat menggugah kesadaran akan hidup yang ternyata masih layak untuk kita jalani.

Lika-Liku Perjalanan Ale Menuju 'Kematian'

Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati menceritakan tentang tokoh utama Ale, seorang laki-laki pekerja kantoran biasa berumur 37 tahun. Hidupnya dirundung derita sejak kecil. Ale digambarkan sebagai laki-laki yang berperawakan gemuk, tinggi, hitam, dan memiliki bau badan yang menyengat. Dengan kondisi fisiknya itu, Ale sering menjadi bahan ejekan teman-temannya.

Sementara itu di lingkungan keluarganya, ibunya selalu membanding-bandingkan Ale dengan adiknya. Ketika Ale mendapatkan perlakuan tidak baik dari orang di sekitarnya pun ibunya tidak membela, justru menyuruhnya terus bersabar. Ale kecil tumbuh dengan benih kekecewaan, kemarahan, dan kebencian terhadap dirinya sendiri. Hingga ia dewasa, perasaan itu semakin menggerogoti pikirannya dan membawanya pada krisis eksistensi diri. Ia merasa hidupnya tidak berguna karena kehadirannya pun tidak dianggap ada, bahkan tidak berharga bagi orang-orang di sekitarnya.

Ale memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan meminum obat anti depresan dalam dosis tinggi. Namun, saat melihat kemasan obat yang tertulis bahwa obat ini harus dikonsumsi setelah makan, Ale pun memutuskan untuk pergi membeli mie ayam langganannya sebagai makanan terakhir untuk menutup hidupnya. Dari sinilah hidup Ale mulai berubah.

Perjalanan Ale mencari mie ayam langganannya penuh kisah plot twist. Ternyata Pak Jo penjual mie ayam langganannya telah meninggal dunia. Ale pun bertemu dengan anak penjual mie ayam sekaligus melayat dan membantu prosesi pemakaman tanpa disengaja. Dalam hati, ia merasa menjadi manusia paling sial bahkan saat merencanakan kematian pun ia masih gagal.

Singkat cerita, Ale memutuskan mampir ke warung kopi untuk menenangkan diri mencari rokok. Nasib baik lagi-lagi tak berpihak padanya. Ia menjadi korban salah tangkap polisi dengan barang bukti bubuk putih haram yang tidak sengaja berada di genggamannya. Ale pun digelandang secara kasar dan ditahan di kantor polisi. Ia mendapat siksaan fisik hingga sekujur tubuhnya lebam.

Di dalam penjara inilah Ale bertemu dengan sosok berandalan kelas kakap yang seolah dikirim Tuhan untuk menuntunnya melihat hidup dari sisi berbeda. Namanya Murad, seorang bandar narkoba kelas kakap yang namanya sudah malang melintang sebagai pemilik gurita bisnis haram. Bahkan ia melakukan kong kalikong dengan polisi dengan menyetor sejumlah uang agar bisnisnya tetap aman. Namun, sesekali ia harus dijebloskan ke penjara sebagai formalitas belaka.

Saat dipenjara Ale cukup dekat dengan Murad hingga saling bercerita tentang hidup masing-masing. Setelah Ale dibebaskan, ia kembali kehilangan arah dan tujuan hidup. Mau mati pun gagal. Kembali ke kehidupan lamanya pun rasanya tidak mungkin. Ia pun memutuskan mengikuti Murad.

Kehidupan Murad penuh dengan kekerasan. Ia hidup di sebuah perkampungan kumuh di bantaran rel kereta api. Murad memiliki banyak anak buah dengan badan kekar dan wajah sangar. Kehidupan di perkampungan itu sangat berbanding terbalik dengan kehidupan yang dijalani Ale sebagai pegawai kantoran biasa.

Ale menjadi anak buah kesayangan Murad dengan nama panggilan Blek. Perlahan Ale mulai bangkit dari keterpurukan yang membuatnya selalu merunduk dan selalu menerima perlakuan orang-orang yang semena-mena kepadanya. Bersama Murad, Ale belajar membangun kepercayaan diri. Ia tidak takut pada apapun karena memang pada awalnya ia berniat untuk mati.

Terkadang kehangatan keluarga datang dari orang-orang asing yang peduli atau menganggap kita ada dan berharga. Itulah yang dirasakan Ale ketika menjadi anak buah kesayangan Murad. Ia merasa diperlakukan seperti manusia biasa. Bukan seonggok tubuh yang bisu tak bisa bersuara.

Selama bersama Murad, Ale selalu diajak ke mana pun Murad pergi. Termasuk mengantarkan barang haram narkoba ke sebuah kelab malam milik kawan karibnya, Mami Loussie. Di sana Ale bertemu dengan Juleha, seorang kupu-kupu malam yang sudah bertahun-tahun tenggelam dalam gemerlapnya kehidupan malam. Juleha banyak bercerita bahwa ia terpaksa melakoni pekerjaan ini demi anak tercinta.

Pertemuan dengan Juleha memberikan pelajaran bahwa tidak benar memberikan stigma kepada mereka hanya dari sesuatu yang terlihat mata. Selalu ada alasan di baliknya. Meskipun itu tidak mengubah fakta bahwa apa yang dilakukannya salah, namun setidaknya kita tidak menghakimi mereka jika kita tidak bisa membantu apa-apa.

Di kelab malam itu pula Ale bertemu dengan Ipul satpam perusahaan tempatnya bekerja yang membawanya kabur dari Murad. Setelahnya Ale bertemu dengan orang-orang asing yang seolah diperintahkan Tuhan untuk membawa pesan tersirat kepada Ale. Mulai dari Bu Marni yang merindukan anaknya, Pak Uju seorang penjual layangan yang pernah ditolong Ale, hingga Pak Jipren seorang buta penjual kerupuk bangka.

Pertemuan Ale dengan mereka bukan tanpa sebab. Mereka adalah jawaban atas segala pertanyaan dalam benak Ale. Mereka Ale yang tengah tersesat di tengah riuh rendahnya kehidupan. Mungkin kita sering merasa bahwa masalah yang kita alami begitu besarnya hingga mendorong kita untuk menyerah saja pada hidup. Padahal di luar sana banyak yang mengalami masalah lebih berat dari kita. Tetapi apakah mereka memilih menyerah?

Pertemuan Ale dengan orang-orang dengan latar belakang permasalahan kehidupan masing-masing menyadarkan Ale bahwa hidupnya kini masih layak untuk dijalani. Ia memutuskan membuang jauh-jauh niatnya untuk bunuh diri dan memantapkan diri memulai hidup barunya kembali.

Pelajaran Kehidupan dari Kisah Ale yang Memilukan

Buku ini mengangkat tema mental health dan berfokus pada perjalanan Ale sebagai tokoh utama dalam mencari ulang makna hidup. Mungkin kisah Ale sangat relate dengan kehidupan orang-orang. Seseorang yang tumbuh dalam belenggu luka batin masa kecil hingga menyeretnya pada jurang depresi ketika dewasa. Setiap hari terus mempertanyakan apakah hidup ini masih layak untuk dijalani?

Pencarian makna hidup didapatkan melalui pertemuan dengan orang-orang baik dengan masalah hidup yang beragam. Menurut saya, pertemuan itu terkesan seperti "settingan". Takdir seolah menuntun mereka bertemu Ale untuk memberikan pelajaran hidup bagi Ale. Dalam dunia nyata semua ini terdengar mustahil. Semua pertanyaan dalam benak Ale tuntas terjawab hanya dalam kurun waktu beberapa minggu setelah percobaan bunuh diri.

Ada beberapa bagian cerita yang menurut saya masih bisa dikembangkan. Contohnya Murad yang sudah menganggap Ale lebih dari sekadar anak buahnya. Namun ketika Ale kabur, Murad tidak mengerahkan anak buahnya untuk mencari Ale. Ia malah membiarkan Ale lepas dari cengkeramannya.  

Ketika membaca bagian ini, saya berpikir akan terjadi adegan kejar-kejaran antara Ale dengan anak buah Murad. Bahkan mungkin terjadi peristiwa baku hantam di antara mereka, termasuk menyeret Ipul yang telah membawa kabur Ale. Setelah itu Ale dibawa menghadap Murad dan dihajar habis-habisan. Ale mengakui ingin resign menjadi anak buah Murad. Mendengar tekad bulat Ale, Murad pun mengalah dan mengajukan satu syarat. Ale harus membantu dan memastikan adiknya dapat bekerja di perusahaan tempatnya bekerja. 

Namun itu semua tidak terjadi. Penulis lebih berfokus pada sang tokoh utama dalam misi pencarian makna hidup. Karena memang novel ini lebih berfokus pada upaya penyembuhan diri para penyintas despresi.

Sebagai pelengkap akhir cerita, penulis dapat mengembangkan hubungan Ale dengan ibunya. Di mana Ale dapat melepaskan semua beban kesedihan dan kekecewaan yang sedari kecil ditorehkan ibunya. Tujuannya tidak lain untuk memperbaiki hubungan antara keduanya. Sehingga dapat memberikan pesan bahwa seburuk apapun kondisinya, masih belum terlambat untuk memperbaiki semuanya.

Melalui kisah Ale dan pertemuannya dengan orang-orang asing dari berbagai latar belakang kehidupan, kita dapat mengambil banyak pelajaran darinya. Setiap orang memiliki masalah hidupnya masing-masing. Seyogyanya kita bisa melihat masalah dari perspektif yang lebih luas.

Mungkin kita perlu berhenti sejenak dari hiruk pikuk kehidupan membosankan yang kita jalani. Saking sibuknya pada masalah yang dihadapi, kita tidak pernah membuka mata pada sisi lain kehidupan di sekeliling kita. Banyak hal yang sering kali terlewat dari pandangan

Mereka yang hidup dengan keterbatasan ekonomi namun tidak pernah patah semangat untuk mencari sesuap nasi.

Mereka yang sudah berdamai dengan keterbatasan fisik yang selama ini menyulitkan hidupnya.

Mereka yang terpaksa terjun di dunia malam hanya untuk melihat orang tersayang mengukir senyum di bibirnya.

Mereka yang kelihatan biasa saja namun telah berhasil melewati jalan panjang berliku hingga mencapai kebijaksanaan dalam hidup.

Pertemuan Ale dengan orang-orang tersebut juga mengajarkan bahwa hal-hal kecil bisa menyelamatkan hidup seseorang. Sekadar berbincang dengan orang lain mengenai bagaimana mereka menjalani hidup bisa membuat Ale tersadar akan perjalanannya yang masih panjang dan harus dilanjutkan. Hal yang kita anggap sepele mungkin saja berdampak besar bagi orang lain. 

Dari kisah Ale pula kita belajar memahami kondisi mereka para penyintas depresi, yang selalu merasa dikucilkan, dicemooh, bahkan lebih parah tidak pernah dianggap ada. Padahal mereka hanya butuh didengar dan dihargai sebagai manusia. Seberat apapun masalahmu, hadapi hingga akhirnya kau bisa menyelesaikan dan menyikapinya dengan bijaksana.

Buku yang ringan untuk dibaca, terutama bagi para penyintas depresi yang merasa hidupnya tidak lagi berarti. Mereka yang berusaha mencari kesembuhan atas luka batin yang selama ini menggerogoti jiwa.


Selamat membaca!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menumbuhkan Kesadaran Merawat Bumi dari Buku Kitalah Yang Ada Di Sini Sekarang karya Jostein Gaarder

Kisah Asmara Borno dalam Novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah Karya Tere Liye