Kisah Asmara Borno dalam Novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah Karya Tere Liye
Siapa yang tidak kenal dengan Tere Liye, seorang penulis novel tersohor dengan karya-karyanya yang mengena di hati para pembacanya. Gaya bahasanya mudah dimengerti, ceritanya menarik mengandung nasihat, kritik, plot twist, dan seringkali mengangkat isu-isu yang relevan dengan kondisi Indonesia. Bagi para kutu buku, mungkin novel Tere Liye menjadi bacaan yang wajib tersusun rapi di rak buku pribadi.
Saya mengenal nama Tere Liye dari cerita teman-teman yang terdengar sangat excited membahas novel-novel karya Tere Liye. Jadilah saya diam mematung mendengar mereka berkisah. Mendengar namanya saja baru pernah, apalagi membaca karyanya.
Saya menemukan Novel Aku, Kau, dan Sepucuk Angpau Merah saat berselancar di aplikasi Ipusnas. Penasaran dengan novel-novel karya Tere Liye yang sering dibahas teman-teman, saya tertarik untuk meminjam novel ini. Namun di saat Kepalang tanggung sudah membaca hampir setengahnya, saya memutuskan membelinya di marketplace.
Isi Buku
Novel ini menceritakan tentang perjalanan cinta dari tokoh utama Borno, dengan latar belakang kehidupan masyarakat di tepian Sungai Kapuas. Bisa dikatakan Borno terlahir dari keluarga sederhana dengan ajaran budi pekerti yang baik. Borno digambarkan sebagai seorang pemuda berusia sekitar 22 tahun yang hatinya tulus, baik, dan lurus sepanjang Sungai Kapuas. Ia memiliki karakter yang optimistis di tengah kondisi yang sulit sekalipun. Ia juga memiliki semangat pantang menyerah, terutama saat mengusahakan berbagai cara agar dapat bertemu dengan sang pujaan hati.
Pada awal cerita, digambarkan bahwa Borno sempat beberapa kali pindah pekerjaan. Di mana ia sempat bekerja sebagai buruh di pabrik karet, penjaga karcis di pelabuhan feri, pengemudi sepit, dan berakhir sebagai montir. Saat menjadi pengemudi sepit inilah kehidupan Borno mulai berubah. Saat ia baru pertama kali menjadi pengemudi sepit, ia bertemu dengan pujaan hati, si sendu menawan berbaju kurung kuning. Seumur hidupnya, baru pertama kali ia merasakan getaran cinta yang terasa aneh. Pertemuan itu diawali dengan sepucuk angpau merah yang jatuh di sepit milik Borno. Cintanya tumbuh seiring dengan kedekatannya dengan Mei, si sendu menawan. Mei adalah seorang gadis beretnis Tionghoa yang sedang melakukan praktik mengajar di sebuah yayasan di Kota Pontianak. Setiap hari ia menaiki sepit Borno menuju sekolah. Dari perjalanan cinta Borno menggapai Mei dimulai.
Alur cerita yang disajikan cukup menarik dan saling terkait satu sama lain. Penulis menggunakan alur maju, dengan menyelipkan kilas balik atau flashback di beberapa bagian cerita. Kematian bapak Borno di masa lalu memiliki benang merah di kehidupan masa depan Borno yang membuat situasi semakin pelik. Peristiwa itu terjadi sepuluh tahun yang lalu. Diceritakan bahwa sebelum meninggal, bapak Borno memutuskan mendonorkan jantungnya untuk seorang lelaki. Padahal masih ada kemungkinan bapak Borno bisa diselamatkan. Akan tetapi, dokter yang menangani bapak Borno seolah tidak mau berusaha hingga menyerah dan menyatakan beliau sudah meninggal. Dokter segera mengambil tindakan medis mengambil jantung bapak Borno untuk didonorkan.
Menariknya, lelaki yang mendapatkan donor jantung tersebut adalah ayah Sarah, yang merupakan saudara sepupu sekaligus teman masa kecil Mei. Sedangkan dokter yang menangani bapak Borno adalah ibu Mei. Pada saat itu, Borno kecil menangis terisak melihat ayahnya meninggal hingga merasa kecewa kepada dokter. Setelah kejadian tersebut, ibu Mei tersadar akan ambisinya yang telah merenggut kehidupan Borno kecil. Ia menjadi depresi selama beberapa waktu hingga memutuskan pindah dari Pontianak ke Surabaya, hingga akhirnya meninggal di sana. Sebuah plot twist yang sangat rumit, di mana trauma masa lalu ibunya membuat Mei menanggung beban rasa bersalah terhadap Borno.
Keadaan semakin rumit seiring kedekatan Borno dengan Mei. Borno yang semula ragu dengan perasaannya, menyatakan kemantapan hatinya untuk mencintai Mei dengan apa adanya. Sementara itu, sikap Mei semakin aneh, seakan menarik diri dari kedekatannya dengan Borno. Perasaan Mei sulit dijelaskan, karena ia menanggung beban masa lalu berupa rasa tanggung jawab ibu terhadap Borno. Inilah yang membuat hubungan Borno dengan Mei mengambang tak tentu arahnya, seperti sepit yang kehabisan solar di tengah riak Sungai Kapuas. Borno terus berusaha mencari jawaban atas sikap Mei yang membingungkan tanpa kepastian. Tetapi Borno tidak pernah menyerah memperjuangkan cintanya. Ia tetap menunggu penjelasan hingga batas waktu yang tidak disebutkan.
Borno kembali menjalani hari seperti biasa sebagai montir di bengkelnya sendiri yang dibelinya dengan hasil kongsi dengan Bapak Andi. Di tengah kemelut kisah cintanya yang berada di ujung tanduk, muncul Sosok Sarah dengan kepribadian yang menyenangkan. Namun Borno hanya menganggap Sarah sebagai teman biasa. Hatinya telah tertambat pada Mei, si sendu menawan seorang. Jawaban itu pun terkuak beberapa bulan kemudian setelah kepergian Mei ke Surabaya. Alih-alih marah, Borno sudah berdamai dengan masa lalunya. Ia tidak lagi mempermasalahkan kematian ayahnya, dan menganggapnya sebagai garis takdir yang memang sudah seharusnya terjadi. Borno telah menemukan bentuk cinta sejatinya kepada Mei.
Review Buku
Penulis menggambarkan kehidupan orang-orang di tepian Sungai Kapuas yang sangat bersahaja. Pulau Kalimantan, tepatnya di Kota Pontianak dihuni oleh berbagai macam suku dan etnis, terutama suku Dayak, Melayu, hingga etnis Tioghoa. Di mana mereka dapat hidup saling berdampingan dengan menjunjung tinggi rasa toleransi satu sama lain. Borno, si tokoh utama digambarkan memiliki sifat yang bersahaja, bisa bergaul dengan semua orang di gang sempit, seperti Pak Tua, Andi, Cik Tulani, Koh Acong, Bang Togar, Jauhari, Jupri, dan lainnya. Penulis mampu menghadirkan rasa kekeluargaan yang begitu erat di antara para tokoh, terutama tokoh utama dengan tokoh pendamping lainnya.
Penulis juga menonjolkan karakter kolektif masyarakat yang memiliki semangat gotong royong, ramah, dan peduli dengan sesama. Masyarakat di tepian Sungai Kapuas juga digambarkan sebagai masyarakat yang mencintai tradisinya dengan melestarikan sepit sebagai moda transportasi air di sepanjang Sungai Kapuas yang mengandung nilai sejarah dan mencerminkan budaya masyarakatnya. Tidak heran, kehadiran “pelampung” (kapal feri) menjadi ancaman yang dapat menggeser keberadaan sepit sebagai moda transportasi tradisional masyarakat sekitar. Sepit merupakan perahu tradisional dengan tenaga mesin baling-baling yang umum digunakan masyarakat sekitar untuk menjelajahi Sungai Kapuas, karena dianggap dapat menyingkat waktu perjalanan dibandingkan menggunakan moda transportasi darat seperti opelet.
Bagian akhir cerita terkesan masih menggantung. Alur ceritanya masih dapat dikembangkan lagi dalam bagian kedua, terutama kelanjutan hubungan Borno dengan Mei. Sampai akhir cerita, penonton akan bertanya-tanya mengenai hubungan keduanya yang tidak menunjukkan tanda-tanda yang pasti. Apakah cinta Borno hanya bertepuk sebelah tangan atau disambut dengan kedua tangan oleh Mei. Penulis seolah memberikan kebebasan kepada pembaca untuk membangun imajinasinya sendiri mengenai kelanjutan hubungan keduanya. Terlepas dari itu, novel ini sangat menarik untuk dibaca. Mekipun tebalnya 500-an halaman, tidak berat untuk dicerna. Bahasanya sangat mudah dipahami, pembaca diajak menyelam dalam dunia imajinasi penulis. Sajian cerita yang sarat makna kekeluargaan, persahabatan, keikhlasan, perjuangan, dan cinta itu sendiri.

wow penasaran jdi pengin baca bukunyaa
BalasHapusayok kak baca bukunya, seru banget lohh
Hapus