Belajar Menjadi Manusia Tangguh dari buku Tentang Kamu karya Tere Liye
Jika kamu penggemar Tere Liye, kurang lengkap rasanya jika tidak membaca novel Tentang Kamu dan Janji. Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas salah satunya. Tentang Kamu disebut-sebut sebagai salah satu karya masterpiece dari Tere Liye. Menariknya, novel ini terinspirasi dari kisah seorang Perempuan Jawa yang sukses menjadi pengusaha di London.
Saya sering melihat konten berseliweran di beranda media sosial yang mengulas novel ini. Penjelasannya cukup menarik minat saya untuk membacanya. Terlebih dengan narasi bahwa novel ini wajib dibaca oleh para penggemar Tere Liye. Jadilah rasa penasaran saya semakin memuncak tatkala beberapa teman saya yang sudah membaca, membeberkan pandangannya mengenai novel ini.
Sekitar awal tahun ini, saya memutuskan membeli novel ini di toko buku online, tentu saja. Saya baru membacanya beberapa bulan kemudian. Lembar demi lembar saya baca dan resapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sekarang, saya baru sempat memberikan ulasannya.
Secara umum novel ini sarat akan nilai-nilai kehidupan dari tokoh utama. Sri Ningsih digambarkan sebagai pribadi yang memiliki keteguhan hati, kesabaran, keikhlasan, dan semangat pantang menyerah dalam menjalani hidup. Bukan Tere Liye namanya jika tidak menyelipkan nasihat di dalam setiap karyanya. Tidak heran jika novel ini didapuk sebagai salah satu karya masterpiece Tere Liye.
Tentang Kamu ditulis menggunakan alur cerita mundur (flashback) yang memberikan pengalaman berbeda bagi para pembaca. Ceritanya berfokus pada perjalanan Zaman Zulkarnaen, seorang pengacara dari Thompson & Co yang berlokasi di Belgrave London. Firma hukum ini dikenal sebagai legenda hukum yang berfokus pada penyelesaian kasus pembagian harta warisan dengan client dari berbagai negara.
Zaman mendapatkan tugas menangani kasus pembagian harta warisan Sri Ningsih senilai 19 triliun. Ia pun menyelidiki latar belakang kehidupan Sri Ningsih yang bermula di Pulau Bungin hingga akhir hayatnya di Kota Paris. Tidak ada yang pernah menyangka. Seorang perempuan asal Indonesia yang meninggal di sebuah panti jompo di Paris meninggalkan harta warisan sebesar itu tanpa ahli waris. Sebuah prolog yang sangat menarik untuk menggugah rasa ingin tahu para pembaca.
Zaman memulai pencariannya di panti jompo tempat tinggal terakhir Sri Ningsih. Ia mendapatkan petunjuk dari buku diary yang diberikan Aimee, seorang gadis pengurus panti jompo. Buku diary itu tipis saja, dan hanya berisi lima juz kehidupan Sri Ningsih. Zaman memulai penelusurannya dari Sumbawa untuk mencari tahu latar belakang kehidupan Sri Ningsih di Pulau Bungin dan tempat-tempat lainnya sesuai petunjuk yang tertera dalam buku diary Sri. Ia juga menelurusi jejak Sri dari surat yang dikirimkan kepada Nur'aini maupun keterangan langsung dari orang-orang yang mengenal Sri.
Juz Pertama tentang Kesabaran 1946-1960
Bagian pertama kehidupan Sri Ningsih menceritakan tentang kisah masa kecilnya di Pulau Bungin. Sri Ningsih adalah seorang piatu yang ditinggal pergi ibunya yang tengah berjuang melahirkannya. Sri kecil tinggal bersama Nugroho bapaknya, serta ibu tirinya Nusa Maratta ibu tirinya, dan Tilamuta adik tirinya.
Keluarga Nugroho hidup berkecukupan dari bisnis kapal milik bapak Sri. Namun, kehidupan indah itu hancur berantakan tatkala bapak Sri dikabarkan tenggelam di perairan Bali dalam perjalanan kapal dari Jawa. Sejak saat itu, Nusa Maratta sangat membenci Sri. Ia bahkan menyebut Sri sebagai anak yang dikutuk karena dianggap membawa sial.
Setiap hari Nusa Maratta memperlakukan Sri dengan kasar. Sri terpaksa putus sekolah agar bisa mencari nafkah bagi ibu dan adik tirinya. Ia terbiasa bangun pukul 4 pagi untuk menyiapkan sarapan sebelum bekerja. Pekerjaan apapun dilakukannya, seperti mengumpulkan teripang, bulu babi, dan sebagainya. Ketika hasil yang didapat tidak sesuai dengan keinginan ibu tirinya, Sri akan dimarahi habis-habisan. Tidak jarang ibu tirinya melukai Sri.
Meskipun demikian, Sri tidak pernah membenci ibu tirinya. Ia teringat nasihat ayahnya untuk selalu patuh pada perintah ibu tirinya, selalu bersabar. Sekalipun ibu tirinya memperlakukannya tanpa belas kasihan, Sri tidak pernah marah atau dendam. Sungguh, kesabaran dan keteguhan hati yang luar biasa dari seorang Sri.
Kesabaran yang dipupuk selama bertahun-tahun akhirnya mulai membuahkan hasil. Sebuah peristiwa yang akan mengantarkan Sri pada kehidupan barunya. Rumah panggung milik keluarga Nugroho habis dilalap api yang juga menghanguskan Nusa Maratta. Sri dan Tilamuta kemudian merantau ke tanah seberang, tepatnya Surakarta, Jawa Tengah. Tujuan utamanya adalah sebuah pesantren yang cukup terkenal milik kenalan guru Sri, Tuan Guru Bajang.
Juz Kedua tentang Persahabatan 1961-1966
Bagian kedua mengisahkan tentang kehidupan Sri selama belajar di pesantren. Ia bersahabat baik dengan Nur'aini dan Sulastri. Nur'aini adalah putri bungsu Kiai Ma'sum, pengasuh pondok pesantren. Sedangkan Sulastri adalah guru bahasa sekaligus pengasuh sanggar ketoprak. Mereka bertiga adalah sahabat baik yang selalu terlihat bersama-sama. Hingga Sri dan Nur'aini lulus madrasah, mereka masih tetap bersama. Sri tetap tinggal di madrasah dengan mengabdi sebagai guru.
Beberapa waktu kemudian, Nur'aini dipinang oleh seorang lelaki bernama Arifin. Secara perlahan posisi Musoh suami Sulastri sebagai orang kepercayaan Kiai Ma'sum mulai bergeser pada Arifin. Seiring berjalannya waktu, muncul bibit-bibit kebencian dalam diri Sulastri dan Musoh. Hubungan mereka dengan madrasah dan Kiai Ma'sum mulai merenggang.
Pada bagian ini, Tere Liye menggambarkan ketegangan di tahun menjelang terjadinya Peristiwa G30S. Musoh dan Sulastri keluar dari pesantren dan diam-diam membuat gerakan bawah tanah melawan Kiai Ma'sum. Mereka melakukan propaganda menghasut orang-orang untuk membenci Kiai Ma'sum. Tujuan sebenarnya adalah mengumpulkan dukungan massa untuk membalaskan dendam terhadap Kiai Ma'sum atas kematian orang tua Sulastri. Mereka juga terafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (mungkin melalui Lekra, Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang diceritakan akan melakukan kudeta di Ibukota Jakarta.
Sri yang mengetahui gelagat mencurigakan Sulastri dan Musoh berusaha menyadarkan mereka. Namun kepalang nasi sudah menjadi bubur, mereka tetap melancarkan aksi pembantaian terhadap warga pesantren dengan sasaran utama keluarga Kiai Ma'sum. Malam itu begitu mencekam, mayat dan ceceran darah ada di mana-mana. Singkat cerita, setelah terdengar kabar kudeta di Ibukota mengalami kegagalan, kelompok Sulastri berhasil ditangkap.
Dalam persidangan, Sulastri dijatuhi hukuman penjara atas kesaksian Sri. Semenjak kejadian itu, Sulastri menyimpan dendam kesumat yang amat mendalam terhadap Sri yang dianggap telah mengkhianati dirinya. Di sisi lain, Sri dihantui rasa bersalah yang terus menerus mengusik jiwanya.
Setelah situasi kembali normal, Sri memutuskan meninggalkan pesantren dengan segala kenangan di dalamnya. Tilamuta telah meninggal dalam peristiwa pembantaian itu. Jadilah Sri mengadu nasib di Ibukota Jakarta sendirian. Inilah babak ketiga dari kehidupan Sri Ningsih.
Juz Ketiga tentang Keteguhan Hati 1967-1979
Pada bagian ketiga ini, Sri Ningsih menjalani kerasnya hidup di ibukota. Selama tiga bulan, jauh sudah ia berjalan mengelilingi setiap sudut ibukota demi mencari pekerjaan. Namun, hasilnya tetap nihil. Sampailah Sri di ujung persimpangan, kembali ke Surakarta atau tetap bertahan mengejar cita-citanya. Dari titik ini, pertolongan Tuhan itu nyata. Sri mendapat pekerjaan sebagai guru di Sekolah Rakyat dekat rumah sewanya. Pagi ia mengajar di SR, sore hingga malam ia bekerja sebagai kuli angkut di Pasar Tanah Abang, hingga berhasil diangkat sebagai kasir.
Di bagian ini terlihat jelas Tere Liye menggambarkan sosok Sri Ningsih sebagai pribadi dengan tekad yang sangat kuat, semangat pantang menyerah, motivasi untuk selalu bergerak maju, inovatif, dan kreatif.
Sri menjalani dua pekerjaan sekaligus sambil mengumpulkan modal untuk membuat usaha sebagai yang menginisiasi pedagang kaki lima berjualan menggunakan gerobak dorong. Sri berjualan nasi goreng dengan gerobak di kawasan Monas. Usahanya berkembang pesat hingga membuka banyak cabang. Namun Sri menyadari, ide berjualan dengan gerobak sudah banyak ditiru oleh pedagang lain hingga memunculkan persaingan sehingga usahanya cenderung mengalami penurunan.
Sri tidak kehabisan akal, ia mulai memikirkan peluang usaha baru yang masih jarang di ibukota. Ia menjual habis gerobak usahanya sebagai modal usaha rental mobil. Singkat cerita usahanya pun berkembang pesat hingga Sri mampu menambah jumlah armada miliknya. Ia juga memiliki relasi yang luas dari usaha tersebut.
Namun roda kehidupan terus berputar. Kejayaan usaha rental mobilnya hancur ketika terjadi kerusuhan Malari 1974 di Jakarta. Armada Sri yang kebetulan produksi Jepang menjadi sasaran amukan massa. Mereka merusak semua produk yang berhubungan dengan Jepang, sebagai aksi protes atas dominasi investasi asing khususnya Jepang yang dianggap merugikan ekonomi lokal.
Seberapa banyak kegagalan yang dialami, Sri akan terus bangkit. Ia memulai pekerjaan barunya sebagai pengawas pabrik. Ia belajar banyak mengenai produksi hingga pengelolaan pabrik sabun. Bahkan ia dikirim untuk belajar tentang produksi produk toiletries di Singapura.
Tidak dapat dipungkiri, Sri memiliki naluri bisnis sebagai wirausahawan. Dengan modal hasil penjualan tanah bekas usaha rental mobilnya, Sri membangun pabrik sabun miliknya sendiri. Pabriknya berkembang dengan pesat hingga bertransformasi menjadi pabrik besar dengan produk yang bervariatif.
Di tengah kesuksesan itu, muncul bayangan masa lalu yang melemahkan Sri. Ia membuat keputusan besar dengan menukar 100% kepemilikan pabriknya dengan 1% kepemilikan saham dari induk perusahaan raksasa dunia yang membeli pabriknya. Nilai saham ini akan terus melesat seiring berkembangnya perusahaan tersebut.
Inilah akhir dari babak kehidupan Sri Ningsih di Ibukota Jakarta. Ia memutuskan meninggalkan dan 'melupakan' apa yang pernah diraihnya untuk kemudian bertolak ke London, memulai kehidupan barunya dari nol kembali.
Juz Keempat tentang Cinta 1980-1999
Bagian ini mengisahkan tentang kehidupan Sri Ningsih di Kota London, Inggris. Sri memulai kembali kehidupannya dari awal, meninggalkan bayang-bayang masa lalu yang tertinggal jauh di Indonesia. Dengan bantuan Lucy, Sri mendapat pekerjaan sebagai sopir bus tingkat rute 16 dari Cricklewood hingga Victoria Bus Station. Sri adalah sopir bus wanita pertama di London. Seperti biasa, ia bekerja dengan giat, penuh semangat dan dedikasi terhadap pekerjaannya.
Hingga suatu hari, Sri menemukan tambatan hatinya. Seorang pria berdarah Turki bernama Hakan. Benih cinta itu tumbuh dari sebuah pertemuan yang tidak disengaja. Setelah melalui proses pendekatan yang amat panjang, mereka memutuskan melepaskan masa lajang untuk membina rumah tangga bahagia. Setelah menikah, mereka tetap tinggal di apartemen Sri, milik keluarga Rajendra yang telah menganggapnya sebagai keluarga sendiri.
Rumah tangga Sri dan Hakan dipenuhi oleh suka cita. Namun, masalah datang ketika Sri kehilangan kedua buah hatinya. Anak pertama yang diberi nama Rahayu meninggal dunia setengah jam setelah dilahirkan. Sedangkan anak kedua yang bernama Nugroho, hanya bertahan enam jam setelah dilahirkan. Sri amat sangat terpukul setelah kehilangan kedua bayinya. Semangat hidupnya telah padam.
Pada akhirnya hidup akan terus berjalan. Sri dan Hakan berusaha bangkit dari kesedihan dengan saling menguatkan satu sama lain. Perlahan hidup mereka kembali berjalan normal. Mereka kembali menjalani rutinitas seperti sedia kala. Sri dengan pekerjaannya sebagai sopir bus, dan Hakan yang mengelola perusahaannya di bidang IT.
Akan tetapi, takdir Tuhan berkata lain. Orang yang paling dicintai Sri, pergi meninggalkannya untuk selama lamanya. Hakan berpulang menyusul kedua buah hatinya. Sri amat sangat terpukul. Namun, Sri memiliki keteguhan hati yang luar biasa. Ia memaknai kehilangan orang terkasih dengan cara bersyukur karena pernah mendapat kesempatan menyemai benih cinta bersama Hakan.
Setelah semuanya kembali normal, bayang-bayang masa lalu yang terus mengusik jiwanya muncul kembali dihadapannya. Ia memutuskan pergi diam-diam meninggalkan keluarga Rajendra yang telah menganggapnya sebagai keluarganya sendiri. Sri berencana menetap di sebuah panti jompo di Paris.
Juz Kelima tentang Memeluk Rasa Sakit 2000-....
Kisah hidup Sri Ningsih berlanjut di Kota Paris. Ia tinggal di sebuah panti jompo dekat Menara Eiffel, Paris. Sri dengan cepat mudah beradaptasi dan membaur dengan penghuni panti yang lain. Kehadirannya memberikan warna baru bagi panti jompo itu.
Selama tinggal di panti jompo, Sri menyibukkan diri mengajar menari di sebuah sanggar tari. Di usia senjanya, Sri dapat mewujudkan impiannya berkeliling dunia. Sanggar tarinya sering mendapat undangan mengisi kegiatan seni di berbagai berbagai belahan dunia, seperti Amsterdam, Australia, Amerika, India, dan masih banyak lainnya.
Di samping kegiatan mengajar tari, Sri Ningsih juga rajin berkebun. Ia menyulap atap bangunan panti jompo menjadi ladang sayur yang subur. Sudah menjadi kebiasaan Sri sejak kecil yang senantiasa bekerja keras sepanjang waktu. Ia juga menghabiskan waktunya untuk belajar. Sri mempelajari hukum waris yang berlaku bagi Warga Negara Inggris. Sri tidak pernah melupakan aset-aset yang ia miliki. Ia mempersiapkan skenario pembagian harta warisannya. Semuanya dikerjakannya sendiri, sebelum kematian menjemputnya.
Pada bagian hidupnya di Paris ini, Sri mampu memeluk dan menerima semua rasa sakit atas penderitaan yang selama ini dirasakannya. Alih-alih melawan, ia telah mencapai titik penerimaan diri berdamai dengan masa lalunya.
###
Tidak pernah terbayangkan seorang perempuan Indonesia (berkewarganegaraan Inggris) yang memiliki 1% kepemilikan saham dari perusahaan raksasa dunia, hidup dalam kesederhanaan di sebuah panti jompo di Kota Paris hingga akhir hayatnya. Setelah melalui kisah hidup yang amat panjang dan berliku, Sri Ningsih tetap hidup bersahaja dan penuh energi positif.
Setelah kematian Sri Ningsih, muncul masalah pembagian harta warisan yang ditinggalkannya. Thompson & Co memiliki mandat untuk menyelesaikan permasalahan ini. Apabila pengacara dari Belgrave London itu tidak berhasil menemukan surat wasiat atau ahli waris sah atas harta Sri Ningsih, maka harta tersebut akan diambil alih oleh Ratu Inggris.
Kasus ini semakin rumit dengan campur tangan dari A&Z Law, salah satu firma hukum saingan Thompson & Co. Mereka memberikan pernyataan bahwa mereka memiliki seorang ahli waris yang sah atas semua harta Sri, yakni Tilamuta Nugroho adik Sri sendiri. Kemudian muncul dua orang perempuan bernama Ningrum dan Murni yang mengaku memiliki hubungan dengan Tilamuta.
Di tengah kondisi yang semakin pelik, Zaman tetap berusaha mengerahkan segala daya dan upaya yang dimilikinya untuk melanjutkan investigasi mencari surat wasiat yang mungkin pernah ditulis Sri Ningsih. Pencariannya pun membuahkan hasil. Ia berhasil menemukan surat wasiat Sri Ningsih yang ternyata disimpan oleh sahabat baiknya Nur'aini.
Sementara itu, teka teki mengenai bayang-bayang masa lalu Sri yang muncul secara tiba-tiba mulai menemukan titik terang. Sosok sebenarnya dari perempuan bernama Ningrum adalah Sulastri, sahabat Sri selama bersekolah di Surakarta. Ia memiliki dendam kesumat dengan Sri yang dianggap telah mengkhianatinya. Ia menghabiskan hidupnya untuk mencari keberadaan Sri demi membalaskan dendamnya.
Setelah mengetahui kabar kematian Sri, Ningrum memanfaatkan Tilamuta yang selama puluhan tahun disanderanya sebagai alat untuk mendapatkan harta warisan Sri. Namun rencana itu dapat digagalkan oleh Zaman. Ningrum ditangkap pihak kepolisian Perancis karena menjadi penadah mobil curian di Paris. Dengan demikian, harta warisan peninggalan Sri akan dibagikan sesuai surat wasiat yang ditulis oleh Sri sendiri.
Nilai-nilai Kehidupan dari Kisah Sri Ningsih
Kehidupan Sri Ningsih dapat diibaratkan seperti permainan roller coaster, penuh dengan tanjakan, turunan, tikungan tajam, bahkan berputar arah. Betapa kerasnya hidup yang dijalani Sri kemudian membentuk kepribadiannya sebagai orang yang tangguh, penuh kesabaran, kasih sayang, dan senantiasa bersahaja. Kehadiran Sri memberikan semangat baru bagi orang-orang di sekitarnya.
Betapapun hidup mengujinya berkali-kali dengan rasa sakit dan penderitaan yang teramat dalam, ia senantiasa bersabar. Hingga pohon kesabaran itu berbuah manis. Begitu pula kehilangan dan kegagalan yang tiada henti. Ia akan tetap tegak berdiri untuk bangkit berkali-kali. Ia mengikhlaskan apa yang pernah dimiliki untuk memulai semuanya dari awal. Karena pada dasarnya, kesedihan dan kesenangan hanyalah sementara. Mereka silih berganti menyapa setiap manusia, seperti roda kehidupan yang terus berputar. Sri mengajarkan kita untuk menerima dan memeluk semua rasa sakit itu sebagai bagian dari perjalanan hidup yang sangat berharga.
Sri Ningsih mengajari kita, bahwa dalam hidup kita harus berani melangkah maju untuk memulai hal baru dan meninggalkan bayangan masa lalu. Hidup akan selalu memberikan tantangan baru. Darinya lah kita belajar untuk menjawab setiap tantangan dalam hidup yang akan membentuk kita menjadi manusia yang lebih baik. Tantangan akan membawa kita menaiki satu per satu tangga kehidupan menuju puncak kesuksesan.
Hidup itu dinamis bukan statis. Perubahan dalam hidup adalah sesuatu yang nyata. Mereka yang tidak pernah belajar dari perubahan itu akan tertinggal jauh di belakang. Sama halnya dengan Sri Ningsih. Meskipun hanya lulusan madrasah di sebuah pondok pesantren di Jawa Tengah, ia bisa mewujudkan cita-citanya melanglang buana menyusuri berbagai belahan dunia. Sebuah mimpi besar dari seorang gadis kecil Pulau Bungin yang mungkin bagi banyak orang terdengar hanya omong kosong belaka. Namun Sri berhasil membuktikannya. Ia terus belajar hal baru, mulai dari membangun bisnis, mengendarai bus, belajar bahasa baru, hukum, ekonomi, dan lainnya. Dengan etos kerja, semangat pantang menyerah, semangat untuk terus berusaha dan bangkit dari kegagalan, dan dedikasi yang tinggi telah mengantarkannya pada gerbang kesuksesan.
###
Bacaan yang sangat menginspirasi sebagai bahan perenungan untuk belajar menjadi manusia yang tangguh dalam menghadapi setiap badai kehidupan.
Selamat membaca!

Komentar
Posting Komentar