Melihat Realitas Indonesia dari buku Animal Farm karya George Orwell
Siapa yang tidak tahu George Orwell, seorang novelis, esais, kritikus, dan jurnalis asal Inggris. Ia lahir dengan nama asli Eric Arthur Blair (1903-1950). Karya-karya banyak mengangkat isu-isu sosial-politik pada zamannya. Tulisannya mengenai ketimpangan sosial maupun penindasan politik bukan sekadar tulisan biasa melainkan bagian dari pengalaman hidupnya.
Beberapa karya George Orwell sempat disinggung dalam novel Namaku Alam karya Leila S. Chudori. Animal Farm menjadi salah satu karya monumental selain 1984 yang ditulis George Orwell. Novel yang diterbitkan pada tahun 1945 ini merupakan fabel satir yang terinspirasi dari konstelasi politik Rusia pada abad ke-20. George Orwell mengkritik Revolusi Rusia di bawah kepemimpinan Joseph Stalin yang pada akhirnya mengkhianati ideologi awal dari sosialisme itu sendiri.
Kritik tajam Goerge Orwell dituangkan dalam kisah pemberontakan hewan-hewan peternakan terhadap pemiliknya sendiri. Sebuah pemberontakan yang pada awalnya menuntut kesetaraan berakhir dengan munculnya kediktatoran baru oleh kelompok babi yang memimpin pemberontakan itu sendiri.
Saya sudah sering melihat ulasan buku ini dari media sosial. Saat mengunjungi bazar buku di kota, saya memutuskan membeli buku ini karena rasa penasaran dan haus akan bacaan yang sudah tidak bisa dibendung lagi. Saya membeli buku Animal Farm yang diterbitkan oleh Immortal Publishing. Beberapa hari kemudian saya mulai membuka lembar demi lembar buku ini. Setelah selesai membaca, saya pikir cerita dalam novel ini sangat dekat dengan realitas Indonesia saat ini. Mari kita bedah satu persatu.
Ringkasan Novel
Pada bagian awal, novel ini menceritakan kehidupan hewan-hewan di Peternakan Manor yang diperlakukan semena-mena oleh manusia sang pemilik peternakan bernama Jones. Ia digambarkan sebagai seorang manusia pemabuk yang hanya memanfaatkan hewan-hewan peternakan untuk memenuhi kebutuhannya tanpa rasa belas kasihan.
Hingga suau hari, seekor babi tua bijaksana bernama si tua Major mencetuskan sebuah ide pemberontakan untuk mencapai kesetaraan bagi para hewan peternakan. Setelah Major meninggal, hewan-hewan peternakan kompak membuat rencana pemberontakan yang matang di bawah kepemimpinan para babi. Dalam kisah ini, kelompok babi dianggap sebagai binatang cerdas sebagai pencetus strategi. Pemberontakan pun berhasil dilaksanakan dengan mengusir Tuan Jones yang lari tunggang langgang meninggalkan peternakan.
Setelah dikuasai para hewan ternak, Peternakan Manor berubah nama menjadi Peternakan Binatang. Para binatang bertekad membangun masyarakat yang adil, setara, dan bebas dari eksploitasi manusia. Mereka menetapkan asas animalisme yang tercantum dalam Tujuh Perintah. Pada intinya Tujuh Perintah ini adalah doktrin untuk memusuhi apapun yang berjalan dengan dua kaki, sedangkan empat kaki adalah kawan, larangan meniru kebiasaan manusia, dan menganggap semua hewan setara. Dapat disingkat bahwa semua hewan setara.
Dalam posisi puncak, ada dualisme kepemimpinan antara Napoleon dan Snowball. Keduanya memiliki karakter yang saling berseberangan. Snowball memiliki pemikiran visioner jauh ke depan. Ia merencanakan pembangunan kincir angin sebagai sumber energi untuk mempermudah pekerjaan peternakan. Sebelum rencana itu terwujud, Napoleon terlebih dahulu berhasil menyingkirkan Snowball. Napoleon menciptakan propaganda bahwa Snowball adalah kaki tangan Tuan Jones dan menjadikannya musuh bersama. Napoleon pun menduduki posisi puncak kepemimpinan di Peternakan Binatang.
Aktivitas peternakan tidak jauh berbeda saat Tuan Jones mengelola peternakan itu. Para binatang bekerja sama mengolah lahan pertanian, merawat, hingga memanen hasilnya. Mereka juga mengelola hasil peternakan, baik produk telur maupun susu. Perbedaannya, kini mereka hidup merdeka bebas dari belenggu Tuan Jones yang kejam. Namun, anggapan tersebut perlahan keliru.
Setelah Snowball meninggalkan peternakan, Napoleon mengumumkan melanjutkan kembali rencana pembangunan kincir angin ide Snowball yang diakui sebagai idenya sendiri. Para binatang pun menerima apapun keputusan pemimpinnya. Mereka bahu membahu mengerjakan proyek besar ini. Mereka bekerja keras tanpa henti dengan harapan akan mencapai kehidupan yang lebih sejahtera. Boxer si kuda bekerja lebih keras dari hewan yang lainnya. Sedangkan kelompok babi bertugas mengkoordinasi para hewan peternakan untuk melaksanakan tugasnya masing-masing.
Pembangunan kincir angin sempat mengalami kendala. Kincir angin yang telah susah payah dibangun dengan kerja keras dan gotong royong harus berguguran terkena badai. Rasa kecewa yang teramat dalam yang dirasakan para hewan peternakan dimanfaatkan oleh Napoleon untuk menyebarkan propaganda bahwa Snowball lah dalang dibalik peristiwa ini. Kebencian terhadap Snowball semakin menyebar di antara para hewan peternakan.
Pada suatu waktu, Tuan Jones yang dibantu koleganya berusaha merebut kembali peternakan miliknya. Pertempuran di Peternakan Binatang itu pun tidak terelakan. Tuan Jones dan kelompoknya berhasil dipukul mundur hingga lari tunggang langgang meninggalkan peternakan. Namun, kincir angin yang tengah dibangun para hewan hancur berserakan. Mereka harus membangunnya kembali dari awal hingga mereka berhasil menyelesaikannya.
Secara perlahan kelompok babi menunjukkan dominasinya sebagai pemimpin di Peternakan Binatang. Melalui Squealer, mereka menyebarkan propaganda dan doktrin terhadap para hewan peternakan bahwa kerja keras yang mereka lakukan adalah untuk diri mereka sendiri bukan untuk manusia yang tamak dan suka bermalas-malasan. Pada kenyataannya mereka bekerja seperti budak dengan jam kerja yang panjang dan jatah makan yang semakin berkurang.
Sementara kelompok babi tidak pernah bekerja secara fisik. Mereka selalu berlindung dibalik alasan bahwa mereka melakukan pekerjaan menggunakan otak yang lebih menguras tenaga. Dengan demikian mereka memiliki alasan untuk bermalas-malasan dan tinggal di rumah peternakan yang nyaman. Sedangkan hewan lain bekerja keras dan kelaparan.
Muncul perbedaan yang sangat signifikan dari cara hidup kelompok babi dengan hewan lainnya. Kelompok babi secara perlahan mulai meniru perilaku manusia. Mereka tidur di ranjang, meminum minuman keras, hingga berjalan tegak dengan dua kaki layaknya manusia. Mereka juga menjalin kerja sama dengan manusia dalam urusan ekonomi.
Kelompok babi perlahan mengubah aturan yang berlaku sesuai kehendak mereka sendiri. Mereka juga melakukan manipulasi ingatan hewan lain. Ketika kelompok babi melanggar aturan, mereka berdalih bahwa aturan tersebut sudah benar adanya sesuai prinsip yang mereka junjung tinggi. Mereka juga membungkam suara kritik para hewan melalui intimidasi anjing-anjing penjaga. Squealer dari kelompok babi pun bertindak sebagai juru bicara pemimpin untuk meyakinkan para hewan bahwa kebijakan Napoleon adalah untuk kebaikan bersama. Muncul kejanggalan dalam benak para hewan. Namun doktrin kelompok babi menguasai pikiran mereka, sehingga mereka memilih diam.
Di bagian akhir cerita, hewan-hewan peternakan mengintip ke dalam rumah dan mendapati para babi dan manusia duduk di ruangan yang sama. Mereka bersorak-sorai untuk merayakan kerja sama di antara keduanya. Para hewan ternak tidak bisa membedakan antara wajah babi dengan wajah manusia.
Prinsip utama mereka yang memperjuangkan masyarakat yang adil dan setara pun berubah menjadi kalimat satir:
"Semua binatang sederajat, tetapi beberapa binatang lebih sederajat daripada yang lainnya."
Melihat Indonesia dari Kacamata Animal Farm
Animal Farm ditulis oleh George Orwell sebagai sebuah kritik tajam terhadap Revolusi Rusia. Akan tetapi, tulisan ini masih relevan dengan kondisi politik Indonesia di masa kini.
Di dalam novel disebutkan bahwa terjadi perubahan yang sangat signifikan pada prinsip Tujuh Perintah yang berbanding terbalik dengan prinsip awalnya. Perubahan ini menyesuaikan dengan kehendak sepihak dari kelompok babi. Berkaitan dengan kondisi politik di Indonesia, banyak pengamat yang menilai adanya kompromi hukum dan regulasi di Indonesia. Hukum dapat diubah demi kepentingan kelompok tertentu. Hukum yang seharusnya menjadi pelindung bersama, menjadi fleksibel bagi mereka yang memegang kendali. Bahkan dapat digunakan untuk menyingkirkan pihak-pihak yang dianggap berbahaya bagi kelanggengan pihak penguasa.
Sementara itu pembangunan kincir angin yang dijanjikan sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan para hewan, pada akhirnya hanya dijadikan sebagai alat eksploitasi dan penindasan. Para hewan harus bekerja keras membangun kincir angin dengan jatah makan yang semakin berkurang. Sebagai contoh, Boxer si kuda pekerja keras yang selalu percaya pada bualan kelompok babi senantiasa bekerja keras hingga masa pensiunnya. Sementara yang menikmati hasilnya adalah kelompok babi.
Pembangunan yang digaungkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pada kenyataannya hanyalah alat untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya bagi segelintir elite. Sementara masyarakat yang terdampak pembangunan harus kehilangan ruang hidupnya. Pembangunan yang seharusnya dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat, pada praktiknya hanya menguntungkan pihak-pihak di dalam lingkaran kekuasaan.
Fenomena ini juga relevan dengan kasus yang tengah ramai diperbincangkan mengenai pembukaan lahan untuk Proyek food estate Papua sebagai Program Strategis Nasional (PSN) untuk lumbung pangan dan energi. Proyek ini menargetkan lahan seluas 2,6 juta hektar di Merauke, termasuk hutan yang selama ini menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat adat. PSN ini telah merenggut ruang hidup masyarakat adat yang telah menganggap hutan sebagai ibu bagi mereka.
Napoleon sebagai salah satu pemimpin pemberontakan para hewan, menggunakan cara licik untuk menyingkirkan rival politiknya, Snowball. Ia menyebarkan propaganda bahwa Snowball adalah pengkhianat sekaligus kaki tangan Tuan Jones. Dengan demikian, Snowball dapat dengan mudah disingkirkan, sehingga ia dapat menduduki posisi puncak kepemimpinan. Di kemudian hari ketika peternakan binatang mengalami kegagalan atau masalah, Snowball dituduh sebagai biang keladinya.
Untuk melanggengkan kekuasaannya, Napoleon telah melatih anjing-anjing penjaga untuk setia kepadanya. Mereka bertindak sebagai alat represif untuk membungkam, mengintimidasi, bahkan menghilangkan lawan-lawan politiknya. Para hewan peternakan pun hanya bisa diam seribu bahasa tanpa berani menentang kebjikan Napoleon.
Dalam hal ini, pemerintahan telah mengarah pada otoritarianisme yang menciptakan propaganda untuk mempertahankan kekuasannya. Pihak penguasa selalu mencari kambing hitam untuk mengalihkan perhatian masyarakat atas permasalahan yang sebenarnya terjadi. Mereka yang berkuasa juga tidak segan menggunakan kekerasan untuk menekan pihak-pihak yang menentangnya. Pada akhirnya masyarakat kecil hanya punya satu pilihan untuk tetap diam.
Sementara itu, Squealer bertindak sebagai juru bicara pemerintahan Napoleon. Ia sangat mahir berbicara dan memutarbalikkan fakta hingga para hewan peternakan percaya bahwa setiap kebijakan yang diambil Napoleon adalah untuk kepentingan bersama. Dalam konteks masa kini, seringkali pihak penguasa mengerahkan buzzer untuk menciptakan propaganda dalam masyarakat. Tentu saja dengan tujuan melanggengkan kekuasaan kelompok penguasa. Mereka membentuk opini publik untuk menggalang suara dukungan bagi pihak penguasa.
Di bagian akhir cerita disebutkan bahwa para hewan peternakan melihat dengan mata kepala sendiri kelompok babi yang memimpin pemberontakan duduk bersama dalam satu ruangan dengan manusia yang dulu menjadi musuhnya. Mereka tidak bisa membedakan lagi antara manusia dengan babi, mereka semua terlihat sama saja.
Pihak penguasa seringkali merangkul pihak oposisi untuk bergabung dalam lingkaran kekuasaan. Tujuannya untuk menyingkirkan batu sandungan yang dapat membahayakan kekuasaan mereka. Pihak penguasa membungkam kritik yang muncul dengan cara membagikan kue kekuasaan. Dengan demikian, oposisi yang bertugas sebagai check and balance kebijakan pemerintah, kemudian melebur dalam lingkaran kekuasaan itu sendiri.

Komentar
Posting Komentar