Belajar Menghargai Hidup yang Luar Biasa dari Buku Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-orang Biasa Lainnya Karya Reda Gaudiamo

Lagi-lagi saya terkena racun para BookTok yang berseliweran di beranda TikTok. Saya yang awalnya ingin berhemat karena sudah punya beberapa TBR, akhirnya tergiur juga untuk membeli buku lagi. Terlebih diskon yang diberikan oleh marketplace sangat menggiurkan dan tidak bisa saya tolak. Saya baru tahu kalau Reda Gaudiamo adalah seorang penulis. Saya mengenalnya lewat teman saya yang saban hari menyanyikan musikalisasi puisi "Malam Susut Kelabu" karya Goenawan Mohamad. Alhasil saya makin penasaran. Buku karya Reda Gaudiamo berjudul Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-orang Biasa Lainnya pun berpindah tangan dari penjual ke tangan saya.

Buku ini tipis saja, 120-an halaman yang bisa dibaca sekali duduk. Ada 31 cerpen di dalamnya yang memuat kisah orang-orang di sekitar kita yang mungkin luput dari perhatian kita. Namun Reda mampu merangkainya menjadi kisah yang menarik untuk kita lihat. Beberapa cerpennya pendek saja dengan kisah yang menurut saya sangat absurd. Kisah orang-orang yang mengundang tawa, membuat heran, atau mungkin menyayat hati para pembacanya.

Kita diajak untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk kehidupan yang selama ini kita jalani. Mungkin kita terlalu sibuk dengan rutinitas yang dijalani, hingga tidak pernah memikirkan kisah di balik orang-orang di sekitar kita yang mungkin setiap hari kita temui. Mereka juga punya ceritanya sendiri, karena setiap orang adalah tokoh utama dalam kisah hidup masing-masing. Reda mengajak kita untuk membuka mata melihat mereka yang ada di sekitar kita.

Setiap ceritanya menyampaikan pesan yang dapat kita ambil sebagai pelajaran dalam menjalani kehidupan kita sendiri. Setiap keputusan yang kita ambil akan berdampak di masa yang akan datang. Penyesalan selalu ada di akhir. Sedangkan kehati-hatian diperlukan untuk mempertimbangkan resiko yang ditimbulkan sebelum memutuskan sesuatu. Namanya Jo, berperawakan seperti calon taruna dan berotak pintar. Cita-citanya menjadi seorang penerbang yang goyah karena terpikat gadis dari tanah seberang. Ia menolak melanjutkan ujian sebagai calon penerbang dan lebih memilih kawin diam-diam dengan pujaan hatinya. Pupus sudah cita-cita awalnya untuk menjadi penerbang. Tahun demi tahun berlalu dan terbesit pikiran akan cita-citanya yang dulu. Apalah daya, nasi sudah menjadi bubur.

Kesalahan masa lalu memang tidak bisa diperbaiki dan tidak perlu disesali. Tidak perlu juga diulang kembali. Namun kita bisa menengok sejenak ke belakang untuk mengambil langkah berani dengan berpijak pada kesalahan masa lalu. Harapannya akan menjadi hari esok yang lebih baik. Sama seperti kisah Taruni yang kawin dan ditipu berkali-kali oleh mantan-mantan suaminya dengan cara yang sama. Ia mengulangi kesalahan dan tidak belajar dari masa lalu. Habis sudah jerih payah selama setahun menjadi pembantu di Jakarta. Namun begitu mendapat nasihat dari majikannya, tabiatnya mungkin saja berubah.

Hidup yang kita jalani dipenuhi nikmat dari Tuhan. Bersyukur adalah cara terbaik untuk menyadari betapa banyak nikmat yang kita rasakan. Dalam salah satu cerpen ada seorang sarjana teknik komputer yang menjadi tukang semir sepatu. Ia merasa cukup dengan upah dua ribu rupiah setiap kali menyelesaikan pekerjaannya. Ia tidak pernah meminta lebih, dan ditolaknya jika memberinya lebih. 

Sementara itu, ada seorang OB yang loyal terhadap perusahaan. Ia menjalankan pekerjaanya hingga belasan tahun dengan rajin tanpa kenal lelah. Ia menolak kenaikan jabatan dan merasa cukup hanya dengan menjadi OB. Dari mereka berdua kita dapat melihat setiap orang memiliki alasan tersendiri dari keputusan yang diambil. Mereka merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Sebanyak apapun yang diberikan Tuhan, tidak akan terasa cukup jika kita tidak bersyukur atau justru terpaku melihat nikmat orang lain.

Roda kehidupan akan selalu berputar. Ada kalanya kita di atas. Namun, tidak menutup kemungkinan tergelincir dan jatuh ke bawah. Itulah yang dialami pemulung kecil yang bercerita kehidupannya yang dulu sebagai orang berada. Hingga akhirnya takdir membalikkan kehidupannya menjadi amat menyedihkan. Mungkin kita tidak akan pernah menyangka, orang-orang yang hidup dalam gelimangan harta dalam sekejap menjadi gelandangan yang tidak punya apa-apa. Namun, begitulah hidup.

Sebenarnya masih banyak hal yang bisa kita pelajari dari kisah-kisah yang ditulis dalam buku ini. Kita tidak harus mengalami sesuatu agar dapat mengambil pelajaran darinya. Contohnya dengan membaca dan meresapi kisah para tokoh dalam 31 cerpen ini. Kita bisa belajar banyak dari mereka.

Reda mengajak kita untuk menyadari bahwa hidup ini luar biasa dan harus kita hargai. Apapun yang terjadi adalah takdir terbaik yang diberikan Tuhan. Apa yang kita alami mungkin yang membentuk kita seperti saat ini. Maka kita patut bersyukur dengan semua yang kita miliki maupun yang tidak kita miliki.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hiduplah Sekali Lagi dengan Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Karya Brian Khrisna

Menumbuhkan Kesadaran Merawat Bumi dari Buku Kitalah Yang Ada Di Sini Sekarang karya Jostein Gaarder

Kisah Asmara Borno dalam Novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah Karya Tere Liye